3/3/2026- Musi Rawas SumSel Politik dan jabatan bisa datang dan pergi, namun kedamaian di tengah masyarakat harus selalu menjadi prioritas utama. Semangat itulah yang tercermin dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) yang dipimpin Ketua DPRD Musi Rawas, Firdaus Ceolah, dalam upaya memediasi persoalan yang terjadi di Kelurahan Pasar Muara Beliti.
Didampingi Ketua Komisi I serta para anggota dewan, rapat yang digelar di ruang Komisi DPRD tersebut mengedepankan dialog terbuka dan kepala dingin. Seluruh pihak dirangkul untuk bersama-sama mencari jalan keluar terbaik demi menjaga ketenteraman warga.
RDPU ini menjadi istimewa karena dihadiri lengkap oleh para pemangku kebijakan. Hadir Asisten I dan Asisten II, Kepala BKPSDM, Inspektur, Kabag Tapem, hingga Camat Muara Beliti. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kegelisahan yang dirasakan masyarakat.
Aturan Menjadi Penengah
Terkait persoalan pemilihan RT, rapat menyepakati bahwa proses tetap dilanjutkan sesuai dengan mekanisme dan aturan yang telah berjalan. Penegasan ini bertujuan menghilangkan prasangka serta menjaga keadilan bagi seluruh pihak. Proses pemilihan akan dikawal oleh pihak kecamatan dan Tapem agar berjalan transparan dan tertib.
Pesan untuk Seorang Pemimpin
Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Musi Rawas juga menyampaikan pesan khusus kepada lurah yang tengah menunggu masa mutasi. Ia menekankan bahwa jabatan memang bersifat sementara, namun kesan dan kenangan di tengah masyarakat akan selalu melekat.
Ajakan untuk tetap bekerja dengan sepenuh hati hingga hari terakhir menjadi penegasan bahwa pengabdian sejati diukur dari ketulusan, bukan dari lamanya jabatan. “Tinggalkanlah kenangan manis sebelum pergi,” menjadi pesan moral yang disampaikan dengan penuh empati.
Damai Itu Indah
Hal paling melegakan dari pertemuan ini adalah tumbuhnya kesadaran bersama. Pihak yang sebelumnya khilaf hingga melakukan perusakan kantor lurah secara terbuka mengakui kesalahan dan menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab memperbaiki kerusakan tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa di Musi Rawas, seberat apa pun persoalan, selalu ada ruang untuk penyelesaian jika dilandasi itikad baik dan sikap saling memaafkan.
Rapat ini menjadi pengingat bahwa bangunan yang rusak dapat diperbaiki dengan semen dan batu bata, namun kepercayaan masyarakat hanya dapat dibangun melalui kejujuran, keterbukaan, dan komitmen bersama. Kedamaian adalah fondasi utama untuk menjaga Musi Rawas tetap tenang dan bersatu. ( Red*)


Posting Komentar